RAFFLESIA ARNOLDII (Padma raksasa )

 

Assalamualaikum warrahmatullahi wabaraakatuh

Hai Bioners!!

Selamat datang di Bisite, disitus milik Hima Biologi UHAMKA yang berisi info-info terkini, terpercaya dan pastinya bermanfaat untuk kita semua.. Kali ini kita mau bahas tentang Raflesia nih, baca selengkapnya ya..

 

 

Kali ini kita akan membahas tentang bunga yang memiliki aroma menyengat dan tumbuhan endemik Sumatra bagian Selatan nih.. Kalian pasti tau kan bunga apa. Yup, tentu saja si Rafflesia Arnoldii. Bunga yang terancam punah ini awalnya ditemukan di di hutan tropis Bengkulu (Sumatra) di suatu tempat dekat Sungai Manna, Lubuk Tapi, Kabupaten Bengkulu Selatan oleh Dr. Joseph Arnold, yang merupakan seorang pemandu dari ekspedisi yang dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles.

Karna itulah bunga ini diberi nama Rafflesia Arnoldii yang diambil dari nama ketua tim ekspedisi yang menemukan bunga ini. Karna penemuan ini juga loh sekarang Bengkulu dikenal sebagai “Bumi Rafflesia”.

Untuk Klasifikasinya, bisa kita lihat dibawah ini ya.

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan          :Plantae

Divisi               :Magnoliophyta

Kelas                :Magnoliopsida

Ordo                :Rafflesiales

Famili              :Rafflesiaceae

Genus              :Rafflesia

Spesies             : Rafflesia arnoldii

 

Sekarang kita lanjut tentang ciri-cirinya ya..

ü  Bunga terbesar di dunia

Tumbuhan parasit obligat yang terkenal karena memiliki bunga berukuran sangat besar, bahkan merupakan bunga terbesar di dunia. Ia tumbuh di jaringan tumbuhan merambat (lianaTetrastigma dan tidak memiliki daun sehingga tidak mampu berfotosintesis.

 

ü  Tidak Memiliki Daun, Batang dan Akar

Rafflesia Arnoldi tumbuh sebagai tumbuhan parasit, itulah kenapa tumbuhan ini tidak memiliki daun, batang dan akar. Satu satunya akar yang dimiliki tumbuhan ini adalah akar semu yang digunakannya untuk menempel pada tanaman inangnya.

ü  Memiliki Bau Busuk

Saat bunga ini mekar akan mengeluarkan bau yang sangat busuk menyerupai bangkai.

ü  Memiliki buah.

Apabila penyerbukan, dengan menggunakan lalat dan serangga lainnya berhasil, maka bunga ini akan mengeluarkan buah. Buah Rafflesia Arnoldi memiliki bentuk bulat dengan diameter bervariasi antara 12 sampai 15 cm. Buah ini sangat disukai tikus hutan dan tupai karena mengandung biji yang sangat banyak. Hewan inilah kemudian yang membantu penyebaran biji Rafflesia Arnoldi ke berbagai tempat di hutan.

 

 

Mitos Raflesia

Dibalik bentuknya yang khas, ternyata bunga ini memiliki mitos menyeramkan yang dipercaya oleh warga sekitar loh. Mitos ini yang dipercaya masyarakat Provinsi Bengkulu, terutama masyarakat suku Rejang dan Suku Serawai. Masyarakat Suku Rejang mendiami daerah perbukitan yang membentang dari Kabupaten Bengkulu Tengah, Kepahiang, Rejang Lebong, dan Lebong. Daerah-daerah itu merupakan habitat dari Rafflesia Arnoldii ini.
Sebagian warga setempat menyebut bunga ikon dari Bengkulu ini merupakan “Bunga Bokor Setan”. Sebagian lainnya menyebutnya sebagai Ibeun Sekedei atau “Cawan Hantu”. Penamaan itu merujuk bentuk bunga yang menyerupai bokor atau tempat sirih.
Suku Rejang memercayai bunga tersebut sebagai bokor sirihnya para penunggu hutan, baik itu berupa makhluk mistis maupun hewan buas, seperti harimau. Karena itu, warga Suku Rejang dulunya sangat menghindari bunga Raflesia di tengah hutan.

 

Wahh.. Ternyata dibalik aroma dan bentuknya yang unik, Raflesia juga memiliki mitos menyeramkan yang dipercaya warga sekitarna ya... Jadi lebih tau deh sekarang.

Biioners

Sekian dulu ya informasi dari Bisite. Terus ikuti info dari Bisite ini ya…

Tetap semangat, jaga kesehatan.

 

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Salam Literasi, salam Lestari, Salam Konservasi

#meneliti

#mensyukuri

#fantasticbiologi

#Bidang2_HimaBio

#Pendidikanbiologi

 

 

 

Referensi:

https://www.liputan6.com/regional/read/2433883/mitos-mengerikan-di-balik-keindahan-rafflesia-arnoldii

https://kutanam.com/fakta-bunga-rafflesia-arnoldi/

https://id.wikipedia.org/wiki/Padma_raksasa

 

Penulis: Fadita Nurul dan Tiwi Muludiantini

Editor: Yolanda Hanif

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mutasi Virus COVID-19